Kisah Nyata! Terakhir Kali Kami Mendengar Suara Ardi di Gunung Salak
Kami adalah empat sahabat: saya, Budi, Chika, dan Ardi. Ardi adalah yang paling lincah di antara kami. Dia selalu punya cara untuk membuat suasana menjadi cair, bahkan saat kita tersesat di jalan setapak sekalipun. Kemarin lusa aku melihat Ardi sedang kegirangan karena baru dapet jackpot dari Matador168. Tapi itu sebelum kami memutuskan untuk mendaki Gunung Salak via jalur Pasir Reungit pada awal tahun 2020.
Gunung Salak punya reputasi. Banyak yang menyebutnya gunung yang "angker", tapi kami, dengan ego remaja yang tinggi, menganggap itu sekadar mitos untuk menakut-nakuti pendaki pemula.
Hari pertama berjalan lancar. Kami mendirikan tenda di area camping dekat Pos 2. Malam itu, kabut mulai menyelimuti. Di Gunung Salak, kabut bukan sekadar udara putih; ia tebal, basah, dan terasa hidup. Suhu turun drastis.
Keanehan dimulai sekitar pukul sepuluh malam. Kami sedang mengobrol di dalam tenda, memanaskan badan dengan kompor kursivitas minyak tanah.
"Kalian dengar itu?" tanya Chika tiba-tiba, suaranya bergetar.
Kami semua diam. Dari luar tenda, di balik desisan angin dan gemerisik dedaunan basah, terdengar suara langkah kaki. Berat. Berirama. Tap... Tap... Tap...
"Ada pendaki lain?" Budi mendecakkan lidah, mencoba terdengar santai. "Mungkin lewat saja."
Tapi suara itu berhenti tepat di depan flysheet tenda kami. Tak ada suara orang, tak ada sapaan. Hanya keheningan yang memekakkan telinga. Lalu, suara itu berputar-putar mengelilingi tenda kami. Seperti ada yang mengintai.
Ardi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba terkekeh. "Mungkin penunggu gunung lagi ngumpulin pajak," candanya. Tapi matanya tidak tertawa. Dia keluar dari tenda sambil membawa senter.
"Oi! Ada siapa di situ?!" teriak Ardi.
Kami berusaha menahannya, tapi Ardi sudah melangkah keluar. Sinar senter menyilaukan menerobos kabut, tapi tak menyorot apapun selain pepohonan rimbun yang menyeramkan. Suara langkah kaki tadi menghilang.
Ardi masuk kembali, wajahnya pucat. "Tadi... tadi aku rasa ada yang berdiri di belakangku," bisiknya. "Tapi saat aku putar badan, gak ada siapa-siapa."
Malam itu kami tidur dengan lampu senter menyala sepanjang waktu.
Pagi harinya, kabut belum juga mengendur. Jarak pandang tak lebih dari tiga meter. Kita harus turun, tapi Ardi bersikeras ingin melihat puncak yang katanya hanya berjarak satu jam perjalanan.
"Gue cuma mau lihat sebentar. Kalian tunggu di sini aja," kata Ardi. Dia membawa ransel kecil berisi air dan kamera.
"Jangan, Rud. Kabutnya tebal. Kita turun saja," sahut Chika cemas.
"Sepuluh menit, Chi. Gue janji gak akan lama. Gue cuma pengen foto di puncak buat profil WA," jawab Ardi sambil tersenyum, senyum khasnya yang selalu meyakinkan.
Itu adalah terakhir kalinya saya melihat senyum itu.
Ardi meninggalkan kami. Budi, Chika, dan saya menunggu di tenda. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tiga puluh menit. Kabut semakin tebal, membuat dunia di luar tenda terlihat seperti kertas putih yang kosong.
Satu jam berlalu. Kecemasan berubah menjadi panik.
"Ardi! Ardi!" kami berteriak sambil keluar tenda.
Tak ada jawaban.
Kami memutuskan untuk mencari dia. Kami mengikuti jalur setapak menuju puncak. Hujan gerimis mulai turun, mencampur kabut dengan air mata di wajah Chika. Kami berteriak sampai tenggorokan sakit.
Lalu, kami mendengarnya.
"Raka! Budi! Aku di sini!"
Itu suara Ardi. Jelas sekali. Terasa sangat dekat, seolah-olah dia berdiri di sebelah kami.
"Ardi! Kamu di mana?" teriak Budi.
"Aku di sini! Di bawah! Aku terpeleset! Tolong!"
Suara itu datang dari arah tebing di sebelah kiri jalur. Kami bergegas mendekati tepi tebing. Kabut membuat kita tidak bisa melihat dasarnya.
"Ardi! Kami mau lempar tali! Pegang baik-baik!" teriak saya.
Kami tidak punya tali panjang, jadi kami mengikat beberapa kaus kaki dan syal Budi menjadi satu.
"Raka, Budi... tarik..." suara Ardi terdengar lemah dari kedalaman.
Kami melempar ikatan kain itu ke bawah. Kami merasakan tarikan. Ada beban di ujung kain itu. Dengan susah payah, kami menariknya. Tangan kami lecet, nafas kami terengah. Bebannya berat, sangat berat.
"Ardi, pegang erat-erat! Kami narik!" teriak Chika sambil menangis.
Kami menarik sekuat tenaga. Lima meter... tiga meter... satu meter...
Saat ujung kain itu muncul dari kabut tebal, hati kami hancur berkeping.
Tidak ada Ardi di ujung kain itu. Yang menempel di simpul kain hanyalah cabang pohon besar yang tua dan busuk, dipenuhi lumut tebal. Tapi itu tidak masuk akal. Kami jelas merasakan tarikan tadi. Kami jelas mendengar suara itu.
Dan tepat di saat itu, dari balik punggung kami—bukan dari tebing, tapi dari arah jalur pendakian yang baru saja kita lalui—terdengar suara tawa.
Tawa itu ringan, cekikikan khas Ardi.
Hahaha... kalian yakin aku di bawah sana? Aku udah di tenda nih.
Kami membeku. Darah kami serasa mengering. Suara itu datang dari atas, jauh di belakang kami, seolah-olah Ardi sedang mengejek kita. Tapi nadanya... salah. Terlalu datar. Terlalu kosong. Seperti rekaman yang diputar ulang-ulang.
Chika menangis histeris. "Itu bukan Ardi! Itu bukan suara Ardi!"
Kami berlari tunggang-langgang meninggalkan tebing itu, meninggalkan kain syal dan kaus kaki yang melambai tersedak-sedak di udara, dan berlari kembali ke tenda. Harapannya, Ardi benar-benar ada di sana.
Saat kami sampai di tenda, tak ada siapa-siapa. Tenda kami sudah diobrak-abrik. Ransel Ardi yang tertinggal sudah terbuka, isinya berserakan. Dan di dinding dalam tenda, tertulis coretan yang kotor, sepertinya dari lumpur atau tanah.
Tertulis: JANGAN CARI AKU LAGI.
Kami tidak bisa berpikir jernih. Naluri bertahan hidup mengambil alih. Kami memutuskan untuk turun gunung saat itu juga, meninggalkan semua peralatan berat. Kami berlari tanpa henti, terjatuh, tergores duri, dan terus berlalu.
Di perjalanan turun, suara-suara itu terus mengikuti kami. Raka... Budi... kenapa kalian tinggal aku? Aku dingin, Chi... Di sini gelap sekali...
Baca artikel dan cerita horor lengkap lainnya hanya di Matador168!
Suara itu datang dari kanan, dari kiri, kadang bergema di dalam kepala kami sendiri. Itu adalah suara Ardi, tapi dipenuhi kesedihan yang tak terperi.
Dua hari kemudian, kami ditemukan oleh tim SAR di pos jalur pendakian. Kami dalam keadaan syok, dehidrasi, dan luka-luka.
Pencarian Ardi dilakukan selama lima hari. Saya, Budi, dan Chika mendampingi tim SAR, meskipun mental kami sudah hancur. Saya tahu Ardi sudah tidak selamat, tapi saya berharap bisa membawa pulang jasadnya.
Pada hari kelima, tim SAR menemukan Ardi.
Dia ditemukan di dasar jurang yang sangat dalam, jauh dari lokasi di mana kami mendengar suaranya pertama kali. Lokasinya bahkan berbeda jalur.
Saat identifikasi, sang dokter forensik memberitahu kami sesuatu yang menghantam logika saya sampai hancur.
Ardi meninggal karena hipotermia dan patah kaki. Tapi, berdasarkan kondisi mayat dan kandungan perutnya, diperkirakan dia meninggal tidak lama setelah meninggalkan tenda pagi itu. Artinya, saat kami mendengar teriakan minta tolong selama berjam-jam di hutan itu, Ardi sudah lama meninggal.
Lalu, siapa yang kami dengar? Siapa yang kami coba tarik dengan kain syal itu? Siapa yang tertawa di belakang kami?
Pemakaman Ardi berlangsung hujan. Budi dan Chika memutuskan untuk pindah kota, mereka tidak bisa tinggal di tempat yang setiap sudutnya mengingatkan akan kejadian itu.
Sampai sekarang, saya masih sering terbangun di malam hari. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena saya mendengar suara ketukan di jendela kamar saya.
Dan ketika saya memberanikan diri untuk melirik ke luar jendela, di antara keheningan malam, saya selalu mendengar suara itu. Suara yang sama ketika kami di gunung itu.
Suara Ardi, yang kini hanya tinggal sebagai gema penyesalan yang tak akan pernah berakhir, berbisik lirih:
"Kalian tahu kan, kalau aku cuma mau foto puncak? Kenapa kalian tinggal aku di sana sendirian?"

Komentar
Posting Komentar