Kisah Nyata! Suami Kerasukan Saat Istri Pulang Kerja, Minta 'Perawan Cantik' Berujung Petaka!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Santi membuka pintu rumahnya dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Lembur di kantor membuat tulang-belulangnya seperti copot. Yang ia bayangkan saat ini hanyalah wajah suaminya, Joko, yang mungkin sudah tidur pulas, dan kasur empuk yang menanti.
Namun, sesaat setelah ia menginjakkan kaki di dalam rumah, Santi mengetahui bahwa malam itu tidak akan berakhir dengan tidur yang nyenyak.
Suasana rumah gelap gulita, namun dari ruang tengah, terdengar bunyi geraman. Bukan geraman anjing, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih berat, seperti suara singa yang sedang marah. Santi menyalakan lampu.
Baca artikel dan cerita horor lengkap lainnya hanya di Matador168!
Teriakan hampir keluar dari tenggorokannya saat ia melihat Joko.
Pria yang biasanya ramah dan periang itu sedang jongkok di atas meja makan mahoni milik mereka. Posisi itu tidak wajar, seperti seekor kera atau harimau yang siap menerkam. Matanya melotot liar, kedua pupilnya memutih, dan dari mulutnya mengalir air liur kental yang menetes ke lantai.
"Joko? Kamu sakit?" Santi berusaha mendekati, meski kakinya gemetar hebat.
Joko menengadahkan wajah. Wajah itu berubah. Tampak seperti topeng kayu yang hidup, wajahnya memerah, urat-urat di lehernya membengkak. Lalu, suara itu keluar. Bukan suara Joko. Suara itu tua, bergenderang, dan bergema seperti berasal dari gua yang dalam.
"SIAPA YANG BERANI MASUK KE ISTANA KU?"
Santi menjatuhkan tas tangannya. "Suami... ini aku, Santi."
Joko tertawa, tawa yang menggelegar membuat kaca jendela bergetar. "Santi? Wanita tak bermoral! Aku bukan suamimu. Aku adalah Prabu Siliwangi, Raja Padjadjaran! Aku terkurung ratusan tahun, dan sekarang aku bangkit!"
Kaget bukan main, Santi terhuyung mundur. Kerasukan. Pikirannya melayang ke berita-berita mistis tentang Gunung Salak dan keraton yang gaib. Tapi kenapa Joko? Kenapa sekarang?
Tiba-tiba, Joko melompat dari meja makan dengan lincahnya, mendarat tepat di depan Santi. Dengan sekali pukul, Santi terlempar ke dinding. Kepalanya berdenyut, dan rasa takut berubah menjadi teror yang membekukan.
Joko menatapnya dengan tatapan yang menusuk jiwa. "Aku butuh kekuatan. Aku butuh tumbal untuk membangun kembali kerajaanku di dunia ini!"
Suara itu makin lama makin keras, menggetarkan seluruh ruang rumah. Joko mencengkeram leher Santi, mengangkatnya setinggi-tingginya. Santi mencoba melepas cengkeraman itu, tapi tenaga suaminya seperti tenaga besi tuang.
"Dengarkan aku, wanita!" bellow Joko, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Santi, nafasnya berbau seperti tanah dan kemenyan. "Aku ingin sebuah persembahan. Aku butuh seorang perawan cantik jelita. Darah perawan itu akan membangunkan prajurit macan putihku yang tidur. Cari aku perawan itu, malam ini juga! Jika tidak... nyawamu melayang, dan aku akan membakar rumah tanggamu sampai jadi arang!"
Santi menangis terisak-isak. "Kami... kami tidak punya perawan... tolong..."
"AKU TIDAK PEDULI!" raung Joko, melempar Santi ke lantai. "CARI! KE KAMAR ANAKMU, KE RUMAH TETANGGAMU, KE MANA SAJA! BAWA AKU PERAWAN ITU! AKU INGIN MEREKAKAH MENARI UNTUKKU SEBELUM AKU KORbankAN!"
Santi menatap suaminya dengan ngeri. Tuntutan itu gila. Untuk menyelamatkan dirinya, dia harus mencelakakan orang lain? Tapi tubuhnya lemas, dan ancaman itu begitu nyata. Joko merangkak di lantai, tangannya mencakar ubin seperti cakar harimau, menunggu perintahnya dipenuhi.
"Joko... tolong..." Santi mencoba menyentuh kaki suaminya.
Joko menendang tangannya dengan brutal. "JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU! AKU RAJA! SEGERA! ATAU AKU MULAI DENGAN DARAHMU YANG KOTOR INI!"
Di saat keputusasaan, mata Santi menatap pisau dapur yang tergeletak di meja akibat perkelahian tadi. Dia menangis. Dia tahu Joko sudah tidak ada di sana. Entitas itu menggunakan wajah suaminya untuk melecehkan dan membunuh. Jika dia menurut, dia akan menjadi monster. Jika dia tidak menurut, dia mati.
Dengan tangan gemetar, Santi mengambil pisau itu.
"Baiklah... Raja," bisik Santi, suaranya patah. "Aku akan carikan perawan itu..."
Joko tertawa puas. "Itu baru istri yang taat. Pergi! Aku akan menunggu di singgasanaku!" Dia melompat kembali ke meja makan, duduk bermartabat seperti seorang raja di atas tahta kayu.
Santi berjalan mundur, menahan tangis, memegang pisau di belakang punggungnya. Dia tidak akan mencari perawan. Dia tidak akan membiarkan entitas itu menyakiti orang lain, atau dirinya.
"Perawan itu sudah ada di sini, Raja," kata Santi tiba-tiba, suaranya berubah dingin.
Joko menatapnya tajam. "Di mana? Aku tidak mencium aromanya!"
"Di sini," kata Santi. Dia mengangkat pisau itu, tapi bukan untuk menyerang Joko.
"Aku sudah lelah, Joko. Aku sudah lelah bekerja, lelah hidup..." Santi menengadahkan wajahnya, menunjukkan lehernya yang putih. "Ambil darahku. Lepaskan aku dari penderitaan ini, dan lepas juga suamiku."
Mata Joko melebar. "Kau wanita bodoh! Itu bukan tumbal yang kumau!"
Tapi sebelum Joko bisa bergerak, Santi dengan cepat melukai lengannya sendiri, memancarkan darah segar.
"TIDAK! KAU MENGAJAKKU KELUAR DENGAN CARA INI!" raung Joko, tubuhnya kejang-kejang. Rasa jijik entitas itu terhadap darah yang tidak 'murni' membuatnya panik. Arwah Prabu Siliwangi itu terlempar dari tubuh Joko, menolak masuk ke dalam tubuh yang terkontaminasi 'noda' darah.
Joko jatuh pingsan dari meja makan. Santi jatuh berlutut, darah mengucur dari lengannya. Dia tidak berusaha menghentikannya. Dia hanya menatap suaminya yang kini tergeletak tak berdaya, wajahnya kembali normal.
"Tolong... Joko..." bisiknya pelan. "Aku sudah kasih apa yang dia mau... kedamaian."
Saat Joko membuka matanya beberapa saat kemudian, didorong oleh bau besi yang menyengat, dia mendapati istrinya tergeletak di lantai dalam genangan darah. Wajah Santi tenang, seperti sedang tidur, meski matanya tidak terpejam rapat.
Di sudut langit-langit rumah, bayangan hitam besar bergaun raja dan topeng menyeramkan masih menunggu. Kali ini, entitas itu tidak marah. Entitas itu hanya tertawa pelan, menyaksikan tragedi yang baru saja terjadi.
"Kau pikir itu akan menghentikanku?" suara itu bergema pelan, sebelum akhirnya menghilang beserta angin malam.
Joko memeluk jenazah istrinya, menangis histeris di tengah rumah yang sunyi. Dia selamat, tapi dia tahu, malam itu, Raja Siliwangi tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya menunggu malam berikutnya, untuk mencari 'perawan' yang lain, atau mungkin... untuk kembali menghantui pria malang yang ditinggal mati oleh istrinya demi menyelamatkan jiwa suaminya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar